admin November 4, 2017

Hukuman 15 tahun penjara menanti warga Kampung Rinjani, Desa Batu Merah, RT 006/RW 016, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Lawmbesi Temarwut alias Tete Bessy. Kakek 69 tahun ini telah ditahan polisi atas perbuatan bejatnya mencabuli gadis 7 tahun hingga mengalami pendaharan.

Penyidik PPA Satreskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease menjerat Lawmbesi dengan pasal 82 UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak jo pasal 290 KUHP.

“Tersangka sudah resmi kami tahan dan  dijerat dengan pasal 82 UU Perlindungan Anak jo pasal 290 KUHP. Di­upayakan dalam waktu dekat berkas bisa sampai ke jaksa,” kata Kasat Reskrim Polres Pulau Ambon dan Pulau-pu­lau Lease, AKP Teddy kepada wartawan di Mapolres Ambon, Jumat (3/11).

Dalam pasal 82 UU Nomor 35 tahun 2014 menegaskan,  setiap orang yang melang­gar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E (Setiap Orang dilarang me­lakukan kekerasan atau an­ca­man kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian ke­bo­hongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan per­buatan cabul) dipidana de­ngan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Sementara  pasal  290 ayat 2  KUHP mengenaskan, di­ancam dengan pidana pen­jara paling lama tujuh tahun, barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan se­seorang, padahal ia tahu atau sepatutnya harus di­duganya, bahwa umur orang itu belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, yang bersangkutan be­lum waktunya untuk dika­winkan.

Seperti diberitakan, tindak pidana pencabulan yang dilakukan oleh Lawmbesi Temarwut terhadap korban terjadi pada Selasa (31/10) sekitar pukul 00.00 WIT.

Kejadian itu berawal, ketika ibu dan ayah korban sedang duduk makan malam bersama dengan korban, namun kor­ban yang tiba-tiba merasa sakit perut meminta pamit untuk keluar membuang hajat di sungai, yang berada tak jauh dari rumah mereka.

Setelah  korban keluar, ibu dan ayahnya masih menu­nggu korban di meja makan. Namun karena menunggu terlalu lama korban belum juga kembali, membuat keduanya cemas. Ayah dan ibu korban akhirnya berhenti makan dan mencari korban di bantaran sungai.

Setelah melakukan penca­rian dan memanggil-manggil nama korban, keduanya men­dengar suara korban di salah satu rumah dekat talud.

Keduanya mendekati dan melihat korban berdiri kebi­ngu­ngan. Korban kemudian dibawa pulang untuk melan­jutkan makan bersama de­ngan ayah dan ibunya.

Saat di rumah, orang tua korban kaget melihat darah mengalir dari selangkangan paha korban. Orang tua kor­ban yang merasa penasaran lalu menyuruh korban mem­buka pakaian dan celananya.

Kedua orang tua korban bertambah kaget melihat alat vital sang buah hati menga­lami perdarahan. Sang ibu kemudian membujuk korban dan menanyakan apa yang terjadi pada dirinya. Korban kemudian menceritakan per­buatan bejat Lawmbesi Temarwut sambil menangis.

Setelah mendengar cerita korban, kedua orangnya ge­ram. Mereka kemudian mendatangi Polres Pulau Ambon Rabu (1/11) melaporkan perbuatan Lawmbesi.

Lawmbesi lalu ditangkap di rumahnya, dan saat ini di­tahan untuk menjalani proses hukum. Antara Lawmbesi dan korban memiliki hubungan keluarga. Lawmbesi nekat mencabuli korban yang ter­golong cucunya itu, lantaran kesepian. Istrinya sudah lima bulan berada di Maluku Utara. (S-27)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*